Baru-baru ini, genteng, sepatu, dan keripik karya peneliti BRIN tiba-tiba menjadi bahan pergunjingan netizen mengenai masa depan riset Indonesia. Ketiganya mendapat sorotan setelah Presiden Prabowo Subianto meninjau hasil riset dan inovasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Istana Kepresidenan pada 6 Agustus 2026 lalu. Presiden menginjak genteng yang terbuat dari biomassa, melihat dan mencoba sepatu hasil pengembangan BRIN, serta mencicipi keripik ubi ungu. Pameran itu sesungguhnya memuat sekitar 150–200 produk yang terbagi dalam 15 klaster, termasuk juga satelit dan penginderaan jauh, pesawat tanpa awak (drone), teknologi nuklir, pengolahan air, rumah tahan gempa, dan sejumlah teknologi strategis lainnya.
Namun algoritma media sosial mempunyai logikanya sendiri. Genteng, sepatu, dan keripik jauh lebih mudah dijadikan lelucon (meme) ketimbang pengembangan teknologi nuklir atau rekayasa genetik dan rekayasa material. Maka munculah pertanyaan bernada sinis: apakah lembaga riset dengan anggaran triliunan rupiah hanya menghasilkan genteng, sepatu, dan keripik?
Pertanyaan tentang efektivitas anggaran riset tentu sah-sah saja. Yang menjadi persoalan adalah ketika kualitas riset dinilai oleh sebagian masyarakat kita hanya berdasarkan penampilan produk akhirnya saja. Sebab yang diperlihatkan kepada Presiden produknya adalah genteng. Namun yang diteliti bukan sekadar cara mencetak genteng. Yang dikenakan oleh Presiden memang sepatu karet. Namun kajian ilmiahnya bukan hanya bagaimana menjahit alas kaki. Dan produk yang dimakan memang keripik. Namun penelitian produk hasil olahan pertanian ini tidak hanya dilihat dari wajan penggorengan saja.
Di balik hasil tiga temuan itu terdapat tiga ilmu yang berbeda yakni: rekayasa biokomposit, teknologi polimer-karet, serta pemuliaan tanaman dan teknologi pengolahan pangan. Yang perlu diingat, apa yang terlihat sederhana di media masa dan sosial media tidak berarti fondasi ilmu dan teknologi di belakangnya juga sederhana.
Genteng: yang diteliti adalah materialnya
Genteng dari biomassa menjadi salah satu objek “roasting” netizen, karena sejatinya manusia telah membuat genteng selama berabad-abad lamanya. Jika yang dipahami hanyalah bentuk bendanya dan cara membuatnya, maka di benak netizen akan muncul pertanyaan: untuk apa sekolah tinggi-tinggi hingga S3 (doktor) dan aktivitas riset laboratorium dilakukan jika hanya untuk membuat genteng?
Genteng yang dipamerkan di istana negara tersebut bukanlah sembarang genteng namun genteng yang terbuat dari limbah pertanian yang direkayasa menjadi material konstruksi yang ringan, kuat, stabil, tahan air, dan tahan lama. Disinilah ranah dari riset materials science. Genteng yang diperlihatkan kepada Presiden memanfaatkan produk limbah berupa serabut kelapa, sekam padi, shorgum, bambu, dan ampas tebu.
Jejak ilmiahnya juga dapat ditelusuri dalam publikasi jurnal bereputasi. Beberapa peneliti BRIN telah mempublish jurnal ilmiah berjudul Conversion of Agro-industrial Wastes of Sorghum Bagasse and Molasses into Lightweight Roof Tile Composite dalam jurnal Biomass Conversion and Biorefinery (Jurnal Q2 Scimago), yang diterbitkan oleh Springer Nature.
Riset ini mempelajari ukuran partikel, kadar perekat, temperatur, tekanan pengepresan, densitas, kadar air, stabilitas dimensi, serta sifat mekanis biomassanya. Dengan demikian, kebaruannya bukan terletak pada bentuk desain segi empat bernama genteng, tetapi pada rekayasa bahan di dalam genteng tersebut.
Prinsipnya mirip dengan pesawat terbang. Bentuk sayap telah dikenal lebih dari satu abad. Namun itu tidak berarti penelitian mengenai serat karbon, ceramic matrix composite, atau titanium alloy untuk pesawat menjadi tidak ilmiah lagi karena akhirnya “cuma menjadi sayap”.
Produk genteng hanyalah sebuah wadah. Namun teknologinya berada di dalam material dan prosesnya.
Sepatu: bukan hanya sebatas alas kaki
Benar bahwa UMKM Indonesia telah mampu membuat sepatu. Bahkan Indonesia mempunyai industri alas kaki lokal yang cukup besar. Maka, bila BRIN sekadar meneliti bagaimana membuat bentuk sebuah sepatu, maka kritik yang diberikan publik cukup masuk akal.
Tetapi informasi mengenai produk yang dipamerkan adalah hal yang berbeda. Kepala BRIN Prof. Dr. Arif Satria menjelaskan bahwa sepatu tersebut dikembangkan dari karet lokal hingga bahan yang memanfaatkan limbah sawit. Teknologi yang digunakan adalah one-piece injection molding: yakni bagian badan dan sol dapat dibentuk dalam satu proses sehingga menyatu tanpa proses perekatan konvensional. Beberapa prototipe tersebut berada pada kisaran harga yang sangat terjangkau. Di sinilah kita perlu membedakan antara industri sepatu dan ilmu material untuk pembuatan sepatu.
Membuat sepatu adalah aktivitas manufaktur. Tetapi merancang komponen karet berarti menentukan formulasi polimer, bahan pengisi, plasticizer, sistem vulkanisasi atau proses pencetakan, kekerasan, elastisitas, ketahanan abrasi, kekuatan tarik, ketahanan sobek, densitas, ketahanan panas, dan umur kelelahan material.
Sedikit perubahan formulasi dapat menghasilkan sifat material yang sangat berbeda. Karbon hitam, silika, biomassa, abu, serat selulosa, maupun berbagai bahan hasil samping industri dapat berfungsi sebagai filler atau bahan penguat, tetapi jumlah dan dispersinya menentukan apakah produk menjadi lebih kuat atau justru menjadi rapuh dan cepat rusak.
Dalam jurnal yang ditulis Ooi et al., dalam Polymer Testing, menunjukkan bahwa abu kelapa sawit dapat digunakan sebagai filler pada kompon karet alam. Pada kadar tertentu sifat tarik dan modulus dapat meningkat, tetapi penambahan filler yang berlebihan justru merugikan akibat aglomerasi partikel.
Itulah karakter penelitian material science: limbah tidak cukup hanya dicampurkan ke karet. Struktur, ukuran partikel, kompatibilitas antarmuka, formulasi, dan prosesnya perlu untuk terus dioptimalisasi. BRIN sendiri pada 2026 mengembangkan kerja sama pemanfaatan limbah industri karet dan sawit menjadi produk bernilai tambah.
Keripik ubi ungu: risetnya perlu waktu bertahun-tahun sebelum sampai di wajan penggorengan
Keripik mudah sekali menjadi sasaran “roasting” dan bahan “rujakan” oleh para netizen karena di mata orang awam, siapa saja dapat memotong ubi, menggorengnya, meniriskan, lalu kemudian memasukkannya ke dalam kemasan plastik.
Produk keripik yang dicicipi Presiden di Istana berasal dari ubi ungu varietas unggul hasil penelitian. Dengan demikian, keripik tersebut merupakan bentuk hilirisasi atau demonstrasi produk akhir, bukan inti kebaruan ilmiahnya.
Di sinilah kemampuan membedakan antara menggoreng ubi dan menciptakan varietas ubi menjadi sangat penting.
Menghasilkan ubi varietas unggul membutuhkan pemilihan sumber genetik, persilangan kemudian seleksi, penanaman selama beberapa generasi, pengujian karakter, produktivitas, stabilitas hasil, ketahanan terhadap stress biotik dan abiotik, kualitas umbi, kandungan bahan kering, komponen bioaktif, serta pengujian pada berbagai lingkungan yang berbeda. Prosesnya dapat memakan waktu selama bertahun-tahun.
Keripik dipahami oleh masyarakat sebagai produk akhir. Padahal di belakangnya terdapat riset bidang ilmu genetika, pemuliaan tanaman, agronomi, kimia pangan, teknologi pascapanen, dan pengembangan produk olahan pangan.
Yang dibeli negara bukan hanya satu bungkus keripik
Kesalah pahaman kemudian menjadi semakin melebar ketika seluruh anggaran riset dibandingkan langsung dengan harga produk dalam demonstrasi hasil riset.
Jika sebuah lembaga riset menghabiskan dana jutaan hingga milyaran untuk menghasilkan varietas unggul, dana itu bukan hanya sebatas “biaya untuk membuat satu bungkus keripik”.
Yang dibiayai dalam kegiatan risetnya adalah koleksi dan pengelolaan plasma nutfah, eksperimen di lahan percobaan, analisa laboratorium, pengujian genotipe, analisis kandungan kimia, honor tenaga lapang, pemuliaan beberapa generasi, pengujian multilokasi, fasilitas pascapanen, hingga proses hilirisasinya.
Dari hasil riset menuju ekonomi sirkular
Ketiga hasil riset tersebut sejatinya mempunyai benang merah. Genteng mencoba mengubah biomassa menjadi bahan bangunan. Sepatu menunjukkan peluang menggabungkan teknologi karet dengan pemanfaatan material lokal dan hasil samping industri. Ubi ungu menunjukkan bahwa sumber daya genetik dapat ditingkatkan nilainya melalui pemuliaan kemudian dihilirkan menjadi produk pangan bergizi tinggi. Ketiganya bergerak dari komoditas menuju teknologi.
Kita kaya karet, tetapi nilai tambah terbesar dari produk karet berteknologi tinggi tidak selalu kita nikmati. Kita kaya akan biomassa, tetapi sebagian besar masih mempunyai nilai ekonomi yang rendah. Kita mempunyai keanekaragaman tanaman pangan, tetapi banyak produk pangan modern masih bergantung pada bahan baku dan teknologi yang berasal dari luar.
Maka ukuran keberhasilan penelitian bukan pada apakah peneliti mampu membuat keripik lebih enak daripada UMKM? Pertanyaan seharusnya adalah apakah mereka dapat menghasilkan varietas yang lebih produktif, lebih bergizi, lebih tahan hama dan penyakit, dan cocok untuk industri.
Bukan pula apakah BRIN dapat bersaing untuk menjual sepatu dengan pabrik sepatu? Pertanyaan kritisnya adalah apakah teknologi materialnya dapat membuat industri nasional lebih kompetitif.
Bukan juga pertanyaan apakah BRIN mampu menjadi produsen genteng terbesar secara nasional? Pertanyaan ilmiahnya adalah apakah residu pertanian Indonesia dapat ditransformasikan menjadi material biomassa yang bernilai tinggi.
