Pernahkah kita bertanya, mengapa banyak nama ilmiah tanaman di Indonesia menggunakan bahasa asing (bahasa Latin atau Inggris) padahal tanaman tersebut tumbuh di halaman rumah kita? Di balik nama-nama ilimiah tersebut tersimpan sebuah kisah panjang perjumpaan antara biodiversitas Nusantara dengan para ilmuwan dunia. Kisah tentang bagaimana hutan hujan tropis kita menjadi ruang kuliah tanpa dinding bagi para ilmuwan, di mana para botanis, etnobotanis, dan ekolog dari berbagai belahan dunia menimba ilmu langsung dari bumi yang kita pijak saat ini.
Indonesia, dengan bentang alamnya yang memukau dan keanekaragaman hayati yang tiada duanya, telah lama menjadi “laboratorium terbuka” bagi para ilmuwan dunia. Dari hutan hujan tropis di Kalimantan hingga dataran tinggi Papua, para peneliti lintas benua dan lintas negara datang bukan hanya untuk sekedar mengamati dan mengeksplorasi, tetapi juga mengungkap rahasia flora dan fauna Nusantara, lalu membawanya ke panggung ilmu pengetahuan dunia dalam kancah global.
Sejarah mencatat bahwa jejak kolaborasi riset ini telah terukir sejak awal abad ke-20 masehi. Salah satu nama yang cukup dikenal publik adalah Karel Heyne, seorang ahli botani asal Belanda yang menulis buku De nuttige planten van Nederlandsch-Indië yang kemudian diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia menjadi “Tumbuhan Berguna Indonesia”. Karya monumentalnya memuat ribuan spesies, mulai dari tanaman obat, rempah, kayu, hingga tanaman pangan fungsional lainnya. Hingga kini, buku itu tetap menjadi salah satu katalog referensi paling komprehensif dalam studi botani di area hujan tropis di Indonesia (Heyne, 1987).
Warisan Heyne dilanjutkan oleh André Kostermans, sosok yang mengabdikan hidupnya di Kebun Raya Bogor. Spesialisasinya pada famili Dipterocarpaceae dan Anacardiaceae mengantarkannya pada pengakuan dunia atas kepakarannya. Namanya kini diabadikan dalam berbagai nama spesies tanaman tropis di Indonesia, yang merupakan bentuk penghormatan yang diberikan pada mereka yang memiliki kontribusi luar biasa di bidang botani (Rijksherbarium, 1994).
Jika Heyne dan Kostermans bekerja dari sudut botani murni, Harold C. Conklin, etnobotanis asal Amerika, memilih pendekatan antropologi-ekologi. Ia meneliti hubungan erat antara masyarakat adat dan tanaman, ia meneliti tentang pengetahuan lokal yang ternyata bukan sekadar tradisi, melainkan sistem ekologis yang terbukti sangat efektif untuk diterapkan bahkan jauh sebelum istilah “konservasi tanaman” populer di dunia akademik (Conklin, 1957). Perspektif ini mematahkan anggapan bahwa ilmu pengetahuan hanya lahir dari laboratorium modern tetapi alam dan juga kearifan komunitas lokal dapat menjadi guru dan pelajaran yang tak kalah berharga.
Memasuki era modern, hubungan kolaborasi riset ilmiah antara Indonesia dan dunia semakin menggeliat. Proyek riset seperti Global Plant Initiative, yang merupakan kolaborasi antara Royal Botanic Gardens Kew dan LIPI (kini BRIN), telah mendigitalisasi ribuan spesimen herbarium di Indonesia, membuka akses bagi komunitas ilmiah global dan memperkuat posisi kita dalam konservasi tumbuhan tropis (Borsch et al., 2020). Kebun Raya Bogor pun bertransformasi dari sekadar taman botani menjadi sebuah simpul kerja sama riset internasional yang mewadahi riset, konservasi flora langka, dan pelatihan bagi ilmuwan muda.
Namun, di tengah capaian ini, beberapa pertanyaan muncul: apakah kita telah cukup menghargai peran Indonesia dalam lanskap ilmu pengetahuan dalam skala global? Banyak riset penting yang dilakukan di tanah air justru lebih dikenal di luar negeri. Nama-nama seperti Heyne, Kostermans, atau Conklin kerap asing di telinga generasi muda kita, padahal karya mereka mendunia dan berakar dari bumi Nusantara.
Kita perlu mengubah paradigma. Bahwa warisan ilmiah dari riset tanaman tropis harus menjadi bagian dari narasi nasional yang diajarkan di sekolah, ditulis di buku atau majalah populer, dan di diseminasi lewat sosial media. Lebih dari itu, kita harus mendorong peneliti muda Indonesia untuk menjadi bagian dalam kegiatan eksplorasi dan konservasi sumber daya hayati kita.
Indonesia bukan hanya kaya akan keanekaragaman hayati, tetapi juga memiliki legitimasi ilmiah untuk menjadi pusat pengetahuan hayati tanaman tropis di dunia. Dengan riset yang berkelanjutan, kolaborasi riset, dan penghargaan pada kearifan lokal, maka kita dapat memastikan bahwa jejak para ilmuwan dunia di tanah air tidak berhenti sebagai catatan sejarah semata, melainkan menjadi pijakan menuju masa depan ekologi dan ilmu pengetahuan yang berkelanjutan.
Referensi:
- Borsch, T., Sosef, M. S. M., Güner, A., Robbert Gradstein, S., Roos, M. C., & al., e. (2020). World Flora Online: Placing taxonomists at the heart of a definitive and comprehensive global resource on the world’s plants. Taxon, 69(6), 1311–1341. https://doi.org/10.1002/tax.12373
- Conklin, H. C. (1957). Hanunóo Agriculture: A Report on an Integral System of Shifting Cultivation in the Philippines. FAO.
- Heyne, K. (1987). Tumbuhan Berguna Indonesia (Vol. 1–4, transl. oleh Badan Litbang Kehutanan). Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan.
- Rijksherbarium. (1994). In Memoriam André Kostermans. Blumea, 39(1), 1–3.