Kerja sama sering dianggap sebagai kunci keberhasilan dari sebuah teamwork. Namun, dalam praktik keseharian, sekelompok manusia (organisasi) sering menghadapi kendala saat munculnya Ringelmann effect, yakni dengan semakin banyak jumlah anggota di dalam sebuah tim, maka akan semakin menurun kontribusi tiap individu di dalam tim tersebut. Fenomena “Social Loafing” ini sering terlihat dalam koordinasi rapat yang berlarut-larut tanpa titik temu, proyek besar yang terkadang kurang efisien, hingga jiwa gotong royong dari anggota tim yang kurang optimal yang pada akhirnya hanya segelintir orang saja yang mau bekerja sungguh-sungguh di dalam tim.
Sebuah studi tentang kinerja koloni semut weaver (Oecophylla smaragdina) memberikan perspektif yang menarik. Serangga kecil ini sering dikenal sebagai “Arsitek” di area hutan hujan tropis karena mereka mampu merajut sarang dari daun dengan menggunakan sutra yang dihasilkan koloni larva mereka. Riset yang dipublikasikan di jurnal Current Biology ini menemukan fakta bahwa saat koloni semut bekerja berkelompok dan menarik sebuah objek daun, maka kontribusi tiap individu justru semakin meningkat.
Mekanisme yang disebut force ratchet ini membuat sebagian semut menarik, sebagian lain menjadi jangkar yang menopang. Dengan demikian, kekuatan kelompok mereka tidak hanya dari banyaknya jumlah semut dalam koloni mereka semata, melainkan akselerasi dan distribusi peran dalam kinerja tim. Hasilnya, efisiensi per anggota melonjak dengan seiring membesarnya tim/ koloni.
Kinerja koloni semut menunjukkan kepada kita bahwa kinerja sebuah tim besar sekalipun tetap bisa efisien, asalkan setiap anggota tahu perannya masing-masing, ujar Madelyne Stewardson, peneliti dari Macquarie University yang memimpin studi tersebut. Rekannya, Chris Reid, menambahkan, “Jika seandinya prinsip kinerja ini diterapkan pada sebuah organisasi manusia, maka kita bisa melihat tim yang solid yang mampu bekerja melebihi kemampuan tiap individunya.”
Hasil temuan ini tidak hanya menarik secara biologis, tetapi juga relevan untuk dunia kerja pada manusia. Dalam sebuah organisasi, kunci kerja sama bukanlah dari besarnya jumlah anggota, melainkan pembagian peran yang jelas, struktur yang adaptif, dan koordinasi yang meminimalkan beban antar individu. Prinsip kinerja dari koloni semut ini bahkan mulai dilirik dalam perancangan swarm robotics (robot-robot kecil) yang dapat bekerja bersama secara cerdas menggunakan AI.
Belajar dari koloni semut ini, kita diingatkan bahwa kerja sama bukan soal banyaknya jumlah anggota di dalam tim, melainkan bagaimana tiap individu menautkan diri ke dalam struktur yang saling menguatkan. Dengan distribusi peran yang tepat, tim dapat melampaui batasan individu dari tiap anggotanya dan hasilnya tentu akan lebih maksimal.