Sebagai akademisi, mungkin kita sudah sangat familiar dengan nilai metrik sitasi seperti h-index, h5-index dan SINTA score. Namun terkait nilai Field-Weighted Citation Impact (FWCI) barangkali terdengar asing atau bahkan jarang diketahui khalayak ramai.
Di tengah derasnya arus penilaian dampak riset yang diukur secara kuantitatif, para dosen/ peneliti mau tidak mau akan terus hidup berdampingan dengan berbagai metrik yang mengukur seberapa besar pengaruh karya ilmiahnya. Salah satu yang sering muncul adalah Field-Weighted Citation Impact (FWCI). Angka ini kerap menjadi sumber acuan dan menjadi nilai seberapa besar dampak/ impact dari sebuah publikasi. Namun, sebelum angka itu dianggap sebagai salah satu nilai mutu sebuah publikasi, kita perlu memahami terlebih dahulu apa yang sesungguhnya di ukur, apa kekuatannya dan apa kelemahan dari metrik ini.
FWCI merupakan indikator yang membandingkan jumlah sitasi sebuah publikasi dengan rata-rata sitasi dunia untuk karya tulis ilmiah yang serumpun, yakni dengan memperhitungkan bidang ilmu, tahun, dan jenis dokumen yang sama. Jika nilainya berada di kisaran rata-rata, berarti karya tersebut mendapatkan atensi yang setara dengan koleganya di seluruh dunia. Sebaliknya apabila di atas rata-rata, artinya visibilitasnya lebih tinggi daripada ekspektasi penulis lain yang ada di bidangnya. Dengan demikian, FWCI tidak hanya menghitung berapa kali sebuah artikel disitasi, tetapi juga memberikan konteks disparitas antara bidang yang diangap sangat produktif dalam sitasi, seperti bidang biomedis dengan bidang yang dianggap lebih lambat publish seperti ilmu humaniora atau arkeologi.
Bagi akademisi di universitas atau peneliti di lembaga riset, FWCI sering dianggap sebagai metrik yang cukup obyektif dalam menilai kinerja relatif dari sebuah publikasi. Ia memberikan “barometer” untuk mengukur pengaruh ilmiah publikasi tanpa harus menelaah setiap makalah satu per satu. Dalam sistem penilaian yang menuntut akuntabilitas dan transparansi, indikator semacam ini tentu menarik untuk diadopsi secara luas. Namun di sinilah pentingnya obyektifitas ilmiah, yakni perlunya memahami bahwa setiap angka metrik adalah bentuk penyederhanaan dari realitas akademik yang jauh lebih kompleks.
Kelebihan FWCI terletak pada kemampuannya meratakan perbedaan lintas-bidang dan lintas-waktu. Ia memungkinkan perbandingan yang lebih adil antara seorang ahli ekonomi dan seorang ahli biologi, antara publikasi tahun lalu dan publikasi lima tahun sebelumnya. Satu angka yang ringkas juga memudahkan penyusunan laporan kinerja dan presentasi dari sebuah hasil riset. Di sisi lain, fleksibilitas FWCI yang bisa diterapkan pada level artikel, penulis, hingga institusi menjadikannya alat analisis yang berguna untuk berbagai skala kebijakan. Tak heran jika banyak perguruan tinggi dan lembaga pendanaan mulai memasukannya ke dalam sistem evaluasi kinerja riset bagi seorang peneliti.
Namun di balik kelebihannya, FWCI memiliki sejumlah keterbatasan yang patut dipertimbangkan. Pertama, indikator ini bergantung sepenuhnya pada basis data Scopus atau SciVal. Artinya, jurnal yang tidak terindeks scopus, terutama yang berbahasa Indonesia atau bersifat regional, sering kali tak terwakili. Dalam konteks negara seperti Indonesia yang memiliki ekosistem riset yang majemuk, hal ini berpotensi menciptakan bias terhadap karya yang sebenarnya relevan secara lokal/ daerah, tetapi tidak tercatat di indeks global (Scopus atau WOS).
Kedua, FWCI sensitif terhadap ukuran sampel. Bagi peneliti yang baru memiliki beberapa publikasi, satu artikel dengan sitasi tinggi dapat langsung mengerek nilainya secara signifikan. Dalam hal ini, indikator tersebut menjadi kurang stabil dan bisa menimbulkan kesan berlebihan terhadap kinerja seorang peneliti.
Ketiga, kutipan tidak selalu identik dengan kualitas metodologis. Suatu makalah bisa banyak disitasi karena penulisnya popular atau bisa jadi kontroversial. Kutipan juga dapat dipengaruhi oleh faktor non-ilmiah seperti luasnya jaringan kolaborasi, keterbukaan akses, atau praktik manipulatif seperti citation cartels. Dengan kata lain, banyaknya sitasi tidak selalu berarti baik secara kualitas ilmiah.
Keempat, FWCI lebih mencerminkan momentum jangka pendek daripada dampak jangka panjang. Beberapa bidang, seperti ilmu dasar, memerlukan waktu yang cukup lama sebelum temuan mereka diakui dan disitasi. Indikator yang hanya mengandalkan data beberapa tahun terakhir cenderung menafikan nilai riset yang baru berbuah setelah waktu yang lama.
Lalu, bagaimana sebaiknya kita memperlakukan FWCI? Pertama, jadikan ia sebagai salah satu alat bantu, bukan satu-satunya dasar pengambilan keputusan. Pengukuran kinerja riset seharusnya menggunakan pendekatan multi-indikator, menggabungkan FWCI dengan metrik lain seperti Journal Impact Factor (JIF), Source-Normalized Impact per Paper (SNIP), SCImago Journal Rank (SJR), serta evaluasi kualitatif melalui peer review.
Kedua, konteks harus selalu diutamakan. Untuk peneliti pemula, penting untuk menampilkan jumlah publikasi, distribusi sitasi, serta peran dan kontribusi spesifik terhadap riset yang dilakukan. Narasi ilmiah yang menjelaskan bagaimana penelitian dilakukan sering kali lebih bermakna daripada sekadar angka rata-rata.
Ketiga, transparansi di level institusi mutlak diperlukan. Jika universitas atau lembaga riset menggunakan FWCI dalam evaluasi dosen atau peneliti, mereka harus menjelaskan sumber data, periode pengambilan, dan metode pembobotannya. Tanpa itu, angka hanya akan menjadi simbol tanpa legitimasi.
Keempat, perlu ada mekanisme untuk mencegah manipulasi. Fenomena “permainan sitasi” kini semakin nyata. Lembaga riset perlu membangun sistem pengawasan yang mampu mendeteksi pola kutipan abnormal dan melindungi integritas evaluasi ilmiah.
Dalam skala nasional, kementerian dan lembaga pendanaan sebaiknya mendorong penggunaan kerangka multi-indikator yang lebih seimbang. Pengembangan unit bibliometrik yang bersifat lokal juga penting dan perlu dipertimbangkan agar kita tidak sepenuhnya bergantung pada indeks global yang cenderung bias terhadap publikasi berbahasa lokal. Selain itu, edukasi bagi peneliti tentang cara membaca dan menafsirkan metrik perlu diperkuat, agar angka tidak disakralkan tanpa pemahaman yang utuh terhadapnya.
Keberadaan metrik FWCI hanyalah sebuah indikator dan bukan vonis mutu secara mutlak. Ia berguna sebagai alat refleksi dan pembanding, tetapi tidak dapat menggantikan penilaian substantif terhadap mutu riset. Ilmu pengetahuan tumbuh dari integritas, kreativitas, dan relevansi sosial dan bukan dari angka metrik yang berdiri sendiri. Jika kita menjadikan metrik sebagai hakim, maka yang dikorbankan bukan hanya karier peneliti, tetapi juga kualitas ilmu pengetahuan yang seharusnya perlu kita jaga secara berkesinambungan.
