Baru-baru ini, nama YER mendadak mencuat di sosial media ketika profil Google Scholar miliknya beredar luas. Bukan karena hasil capaian risetnya yang luar biasa, melainkan karena angka sitasi yang begitu fantastis, lebih dari tiga juta kutipan sitasi dengan nilai H-index mencapai 1.659. Sebuah pencapaian angka yang luar biasa yang bahkan melampaui para tokoh akademik kelas dunia yang pernah mendapatkan penghargaan Nobel. Publik pun dibuat terbelalak, antara takjub dan tak percaya.
Kecurigaan publik itu bak bola salju yang terus menggelinding, mungkinkah ada manipulasi di dalamnya? Mengapa publikasi makalah yang baru terbit pada 2025 bisa langsung disitasi ribuan kali? Dan bagaimana bisa makalah itu telah disitasi sejak tahun 2015, 2017 dst? Mengapa universitas yang tercantum dalam profilnya yakni Universitas UTI belum terakreditasi? Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan. Di tengah riuh itu, Sdr. YER melalui akun LinkedIn nya menyatakan bahwa dirinya adalah seorang “akademisi sejati” dan menolak tuduhan akan adanya manipulasi di Google Scholar.
Kasus ini kemudian menjadi bahan perbincangan serius oleh netizen di seluruh dunia. Bukan semata soal individu yang bersangkutan, namun juga menyangkut kredibilitas sistem penilaian akademik yang kian terjerat pada angka-angka bibliometrik. “Karena nila setitik, rusak susu sebelanga”. Karena ulah salah satu “oknum” akademik ini maka seluruh peneliti dan dosen di Indonesia terkena getahnya
Kerapuhan Indikator H-Index dan Sitasi Google Scholar
Google Scholar sejak awal peluncurannya di 2004 telah banyak diminati para akademisi karena sifatnya yang gratis, mudah diakses, dan inklusif. Namun, penelitian demi penelitian menunjukkan akan adanya bug/ kelemahan didalamnya. Hasil riset Delgado Lopez-Cozar et al., (2012) memperlihatkan bahwa “dokumen palsu” sekalipun ternyata tetap bisa terindex di Google Scholar dan dengan mudah menggelembungkan jumlah sitasi dan H-index seseorang. Rumor terbaru bahkan menunjukkan adanya praktik jual-beli sitasi Google Scholar secara online. Dengan merogoh kocek dengan biaya tertentu, seorang peneliti/ dosen dapat membeli puluhan sitasi (Ibrahim & Arnau 2024).
Belum lagi verifikasi yang lemah antara nama penulis “Generic" serta afiliasinya yang terkadang tidak match. Misal, seseorang yang bernama “Agus”, maka dia akan dengan mudah memasukkan semua publikasi jurnal terindex google scholar yang nama penulisnya sama “Agus”, padahal bidang kepakaran dan afiliasinya berbeda (Agus yang lain). Orang awam mungkin akan begitu mudah terkesima, namun bagi sesama akademisi yang teliti melihat profilnya tentu akan mengernyitkan dahi.
Dengan kerentanan semacam ini, tak heran jika profil YER memantik skeptisisme publik. Angka H-index yang terlalu “tinggi” akan terus dicurigai, dan menjadi sulit untuk dipercaya, meski tidak serta-merta membuktikan adanya niat manipulasi dari yang bersangkutan. Bisa jadi bug system di google scholar, bisa jadi kesalahan teknis, atau memang ada rekayasa pihak ketiga.
Hikmah Apa yang Bisa Dipelajari?
Kasus Sdr. YER seharusnya menjadi cermin bagi kita semua. Dunia akademik kita terlalu lama terobsesi pada angka dan jumlah sitasi, h-index, skor Scopus, dan segala bentuk variable metric lainnya. Padahal, ukuran kuantitatif semacam itu hanya sebagian potret dari nilai produktivitas peneliti/ dosen dan bukan gambaran seutuhnya.
Di sinilah perlunya kita bersikap kritis. Seorang akademisi mesti berani mengajukan pertanyaan, apakah angka-angka itu make sense dan masuk akal? Institusi pendidikan tinggi pun semestinya tidak tergesa menjadikan metrik bibliometrik sebagai satu-satunya standar kenaikan jabatan atau pemberian penghargaan. Evaluasi rekan sejawat (peer review), dampak nyata penelitian bagi masyarakat, serta integritas ilmiah tetap harus menjadi penopang utama dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
Bagimana Mencegah Bias Metric Google Scholar Terulang Kembali?
Ada beberapa langkah yang patut dipertimbangkan. Pertama, institusi perlu memverifikasi profil Google Scholar baik dosen dan penelitinya sebelum menjadikannya sebagai dasar penilaian. Kedua, Google Scholar sendiri perlu meningkatkan transparansi dan membatasi indexing terhadap dokumen yang dinilai mencurigakan. Ketiga, komunitas akademik harus menumbuhkan budaya jujur dalam sitasi yakni mengutip karena relevansi, bukan karena hal yang sifatnya transaksional. Dan yang tak kalah penting, akademisi muda harus mendapat pendidikan tentang literasi bibliometrik. Bahwa mereka juga perlu memahami tentang nilai kebermanfaat dari publikasi ilmiah dan bukan hanya soal bagaimana cara menaikkan sitasinya.
Kisah YER boleh jadi akan segera surut dari percakapan publik. Namun, persoalan yang lebih besar masih ada, bagaimana kita, sebagai komunitas akademik, menempatkan angka dalam proporsinya? Apakah kita akan terus membiarkan obsesi terhadap metrik menggerogoti nilai sejati dari ilmu pengetahuan? Publik mesti memahami bahwa reputasi akademik bukan hanya dilihat dari angka h-index dan jumlah sitasi, melainkan soal kerja keras, kejujuran, dan kebermanfaatan hasil riset. Angka mungkin bisa saja direkayasa, namun integritas, sekali ternoda maka sulit untuk dipulihkan.
Butuh waktu bertahun-tahun untuk membangun sebuah kepercayaan, namun hanya beberapa detik saja untuk menghancurkannya
Referensi:
- Delgado López-Cózar, E., Robinson-GarcÃa, N., & Torres-Salinas, D. (2012). Manipulating Google Scholar Citations and Google Scholar Metrics: simple, easy and tempting. arXiv:1212.0638.
- Ibrahim, H., & Parra-Arnau, J. (2024). Buying Citations: Evidence from a Randomized Controlled Trial. arXiv:2402.04607.