Bagaimana Menyikapi Manuskrip Jurnal yang Ditolak Oleh Editor/ Reviewer?

Dr. Rudiyanto, SP., M.Si
0

Tidak ada yang lebih menyesakkan bagi seorang akademisi selain menerima e-mail dari editor jurnal dengan kalimat pembuka: “We regret to inform you…”. Jika ada revisi (mayor maupun minor), tentu masih ada secercah harapan bagi paper kita untuk bisa diterima. Namun jika kata yang tertera adalah “reject”, maka itu menjadi mimpi buruk yang akan terus membayangi para akademisi. Belcher (2009), menyebutkan bahwa hampir semua akademisi pernah mengalami fase getir ini, bahkan ia menyebutkan bahwa sekitar 85–90 persen penulis terkemuka sekalipun pernah mengalami penolakan. Dengan kata lain, penolakan dari editor jurnal merupakan hal yang tak terelakkan dari sebuah ekosistem akademik.

Lantas, bagaimana sebaiknya kita merespons penolakan tersebut? Apakah layak meratapinya sebagai akhir perjalanan dari karya tulis ilmiah kita, atau justru kita mampu menjadikannya sebagai sebuah batu loncatan? Belcher memberikan sejumlah insight yang cukup realistis, mulai dari menerima “luka emosional” setelah keputusan “reject” hingga bagaimana menyusun strategi untuk memperbaiki naskah manuskrip tersebut.

Pilihan Antara Menyerah atau Resubmission?

Salah satu dilema yang sering muncul yakni apakah artikel yang ditolak tersebut sebaiknya dibiarkan tenggelam begitu saja atau dapat di resubmit ulang? Hasil survey menunjukkan bahwa hampir sepertiga penulis yang artikelnya ditolak lebih memilih untuk menyerah, bukan hanya pada manuskripnya saja, tetapi juga pada keseluruhan topik riset yang telah dilakukannya. Hal ini tentu menjadi “alarm” serius yang mesti disikapi secara bijak. Jika setiap penolakan berarti memutuskan “ekosistem penelitian”, maka akan ada banyak gagasan inovasi yang akan terbuang sia-sia. Belcher mengingatkan, bahwa “mengendapkan” sesaat manuskrip, memperbaiki, lalu mengirimkan ke jurnal lain yang relevan adalah pilihan lebih realistis. Faktanya, 85 persen akademisi yang manuskripnya ditolak memilih mengirim naskah mereka ke jurnal yang berbeda. Pesan moralnya adalah bahwa penolakan bukanlah “validasi mutlak” bahwa riset itu kurang berkualitas. Namun sebaliknya, ia bisa menjadi pintu menuju penerbitan jurnal lain yang lebih tepat.

Perlukah Komplain dan Protes Kepada Reviewer & Editor?

Dalam kepahitan, terkadang muncul dorongan untuk “melawan”. Bukankah komentar reviewer sering kali terdengar sadis, bahkan kadang tidak manusiawi? Belcher menyatakan, menulis surat keberatan atas penolakan manuskrip kepada editor/ publisher sah-sah saja. Namun realitanya, upaya itu hampir tak pernah membuahkan hasil. Data menunjukkan, protes jarang mengubah keputusan editorial in chief. Bahkan, ada risiko hubungan relasi dengan jurnal tersebut menjadi “awkward” atau parahnya penulis justru akan diblacklist sehingga tidak bisa publish di jurnal itu lagi. Lebih baik kita mengarahkan energi kita untuk memperbaiki naskah/ manuscript kita dan berusaha mencari jurnal lain yang mungkin lebih reseptif, ketimbang menuntut “keadilan” dan menunjukkan kepada dunia bahwa saya telah bekerja keras “jungkir balik” untuk riset, mengolah data dan menulis manuscript tapi kenapa masih saja di reject? Why,..why…why?.

Dalam perspektif ini, dunia akademik sebenarnya lebih mirip dunia seni. Menilai sebuah artikel tak ubahnya seperti memberi peringkat pada karya Tintoretto atau Bellini, tetap ada saja subjektifitas, preferensi, dan mustahil bisa obyektif secara konsisten. Peer review bukanlah mesin objektifitas, melainkan arena tafsir yang terkadang penuh dengan perbedaan persepsi dan sudut pandang.

Antara Apelasi dan Persistensi

Terkadang di publisher tertentu ada opsi banding secara resmi untuk merespon penolakan di link websitenya, meski probabilitas untuk kemudian diterima tetap tipis. Studi yang dilakukan American Sociological Review menunjukkan hanya 13 persen proses banding yang akhirnya berhasil lolos peer review. Dengan peluang serendah itu, sebagian besar penulis lebih memilih untuk move on dan pindah ke jurnal lainnya.

Namun bukan berarti jalan tersebut tertutup rapat. Ada kasus-kasus tertentu ketika penulis berhasil meyakinkan editor untuk mengirim ulang artikelnya kepada reviewer lainnya, tentu dengan syarat argumentasi dan justifikasi yang profesional dan berbasis data. Hal ini menekankan satu hal penting, “intonasi nada” dan sikap penulis adalah kunci. Perlu menulis “keberatan” dengan penuh sopan-santun dan beretika dan tidak bersifat offensive kepada editor apalagi “menyerang” secara personal.

Menjadikan Penolakan sebagai Pelajaran Untuk Perbaikan

Jika ditelaah lebih jauh, kutipan Belcher menyiratkan sebuah filosofi penting, “Penolakan bukanlah akhir segalanya, melainkan pelajaran keras yang menuntut ketangguhan penulis”. Setiap kritik reviewer, betapapun pahitnya, bisa dipandang sebagai bahan untuk perbaikan naskah. Bahkan, penolakan kolektif atas metodologi atau kerangka teoritis tertentu dapat menjadi sinyal reflektif, apakah pendekatan yang dipilih memang layak dipertahankan atau sudah saatnya direvisi.

Di sinilah letak paradoks dunia akademik. Penolakan bisa menjadi luka batin, tapi sekaligus peluang menuju lompatan intelektual. Ia mengajarkan kerendahan hati, kesabaran, dan terutama keberanian untuk terus menulis, meski dunia seolah menutup pintu untuknya.

Epilog: Menolak Untuk Putus Asa

Artikel Belcher ini lahir dari pengalaman panjangnya sebagai editor. Ia tahu betul sisi gelap dan terang dalam proses peer review. Pesannya yang tersirat adalah, jangan pernah menyerah hanya karena satu kata “Rejected”. Banyak artikel brilian lahir dari sebuah penolakan. Akademisi sejati adalah mereka yang berani bangkit, menulis ulang, dan berani mengirim lagi artikelnya.

Referensi:
Belcher, W. L. (2009). Responding to a journal’s decision to reject. IETE Technical Review, 26(6), 391–393. https://doi.org/10.4103/0256-4602.57823

Post a Comment

0 Comments

Post a Comment (0)
3/related/default