Dari pengalaman kami sebagai reviewer pada beberapa jurnal ilmiah seperti Biotropika (Sinta 2), Notulae Scientia Biologicae (Q3), Notulae Botanicae Horti Agrobotanici Cluj-Napoca (Q2), Brazilian Journal of Biology (Q2) dan Journal of Sustainable Forestry (Q1), insight yang penulis dapatkan dari para editor yakni bahwa kualitas sebuah review tidaklah diukur dari seberapa keras dan pedasnya komentar kepada authors, tetapi dari ketelitian, sikap adil, dan manfaat dari masukan dan kritik yang kita berikan.
Reviewer yang baik bukan yang paling banyak menemukan kesalahan, melainkan yang mampu membedakan mana kelemahan yang bersifat substantif, mana kekurangan dalam hal teknis dan redaksional, dan mana persoalan metodologi ilmiah yang disajikan dalam sebuah manuskrip.
Objektif Bukan Berarti Tanpa Perspektif
Objektivitas dalam mereview manuskrip bukan berarti reviewer harus kosong dari perspektif. Setiap reviewer memiliki latar belakang keilmuan, pengalaman penelitian, preferensi metodologis, dan tradisi akademiknya yang berbeda-beda. Seorang ahli ekologi akan membaca manuskrip dengan kacamata ekologi. Seorang ahli pemuliaan tanaman akan lebih peka terhadap rancangan persilangan, karakter agronomis, atau stabilitas genetik. Seorang ahli statistik akan lebih cepat menangkap kelemahan desain percobaan dan analisis data.
Seorang reviewer tentu sah-sah saja memiliki perpekstif yang berbeda dengan para authors. Namun masalah akan muncul ketika perspektif itu berubah menjadi sebuah pemaksaan kehendak.
Reviewer yang objektif tentu tidak akan bertanya: “Mengapa penulis tidak melakukan penelitian dengan metode ini atau dengan cara seperti ini?” Ia akan bertanya secara lebih obyektif, “Apakah tujuan penelitian yang diajukan penulis sudah dijawab dengan metode, data, dan analisis yang memadai?”
Perbedaan dari dua pertanyaan ini sangatlah kontras. Pertanyaan pertama cenderung akan melahirkan komentar authors yang terlalu melebar, bahkan terkesan tidak fair/ adil. Pertanyaan kedua membawa reviewer kembali pada inti permasalahan dari sebuah karya tulis ilmiah: menilai kesesuaian antara judul, tujuan, metode, hasil, dan simpulan yang diambil.
Richard Feynman pernah mengatakan, “Prinsip utama bagi seorang ilmuwan adalah jangan pernah menipu diri sendiri dan diri sendiri adalah orang yang paling mudah untuk kita tipu.” Dalam proses peer review, pernyataan tersebut sangat relevan. Bias paling berbahaya bukankah bias yang tampak secara kasat mata, melainkan justru bias yang menyamar sebagai sebuah “penilaian ilmiah” yang terkesan obyektif padahal subjektif.
Menghindari Bias Kognitif
Dalam menilai sebuah manuskrip, seorang reviewer sangat rentan terhadap berbagai bias kognitif. Ada confirmation bias, yaitu kecenderungan menerima argumen yang sesuai dengan keyakinan kita dan menolak yang bertentangan denganya. Ada prestige bias, yakni kecenderungan lebih percaya pada penulis dari institusi yang lebih ternama. Ada pula methodological bias, ketika reviewer menganggap metode yang ia kuasai sebagai satu-satunya pendekatan yang paling benar dan metode lainnya dianggap salah.
Bias juga bisa muncul dari sisi bahasa. Manuskrip dengan bahasa Inggris yang kurang “fluent” kadang dinilai lemah secara ilmiah, padahal kelemahannya mungkin hanya pada cara penulisan dan penyampaian. Sebaliknya, manuskrip dengan bahasa yang rapi bisa tampak meyakinkan meskipun desain penelitiannya bermasalah.
Di sinilah seorang reviewer perlu berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: apakah saya sedang menilai substansi ilmiah secara obyektif, atau sedang menilai cara penulisan, reputasi penulis, atau ketidaksukaan pribadi terhadap pendekatan ilmiah dengan metode tertentu?
Pertanyaan reflektif semacam ini sangat penting bagi seorang reviewer karena objektivitas tidaklah didapat secara instan. Objektivitas adalah sebuah sikap disiplin intelektual yang harus terus dilatih.
Membantu Penulis, Bukan Mengambil Alih Penelitian
Tujuan utama sebuah review bukanlah mengganti arah penelitian para penulis, melainkan membantu penulis menjelaskan maksud dan tujuan risetnya agar lebih mudah dipahami pembaca. Reviewer hadir sebagai penelaah dengan sudut pandang yang berbeda, menjadi pembaca yang kritis yang melihat adanya celah inkonsistensi, asumsi yang tak terlihat, atau bagian yang belum cukup dijelaskan dengan detail.
Memberikan sudut pandang lain bukanlah berarti memaksa penulis mengikuti agenda tersembunyi dari seorang reviewer, seperti memaksa penulis untuk mensitasi karya tulis dari reviewer meskipun tidak relevan dalam mendukung justifikasi ilmiah dari data yang disajikan dalam manuskrip.
Contoh lain misalnya, sebuah manuskrip menulis hasil penelitian tentang pengaruh perlakuan tertentu terhadap pertumbuhan tanaman pada percobaan rumah kaca. Reviewer tentu saja boleh menilai apakah rancangan percobaannya tepat, jumlah ulangannya memadai, kontrolnya relevan, analisis statistiknya sesuai, dan simpulannya tidak over claim. Namun, reviewer menjadi tidak objektif bila memaksa penulis melakukan uji analisa molekuler, uji multi lokasi, atau percobaan lapangan lanjutan hanya karena reviewer merasa penelitian itu akan lebih menarik jika pembahasanya komprehensif.
Tambahan eksperimen hanya pantas diminta apabila benar-benar diperlukan untuk membuktikan klaim utama dari sebuah kesimpulan manuskrip. Bila tidak, saran tersebut sebaiknya ditulis sebagai rekomendasi untuk penelitian selanjutnya, bukan sebagai syarat wajib yang harus dilakukan saat mengirimkan revisi.
Di sinilah etika reviewer diuji. Reviewer harus mampu membedakan antara “ini perlu agar manuskrip justifikasinya lebih valid” dan “analisa tambahan ini akan lebih menarik jika dilakukan”.
Tegas pada Metode, Namun Tetap Santun pada Penulis
Objektif bukan berarti bersikap lembek dan lunak. Reviewer tetap harus tegas, terutama jika manuskrip memiliki kelemahan yang sangat mendasar dalam metode ilmiah. Jika rancangan percobaan tidak memenuhi kaidah ilmiah, analisis statistik tidak sesuai, ulangan tidak memadai, kontrol tidak ada, atau simpulan terlalu jauh dari data, reviewer wajib menyampaikannya kepada editor secara langsung dan apa adanya.
Namun, tegas juga bukan berarti menyampaikanya dengan cara yang kasar. Komentar kepada penulis seperti “kamu tidak memahami statistik sama sekali” sebaiknya dihindari. Kalimat itu menyerang secara personal, bukan memperbaiki naskah. Akan jauh lebih baik jika reviewer menulis: “Analisis statistik yang anda gunakan belum sesuai dengan struktur data karena terdapat dua faktor perlakuan. Penulis perlu mempertimbangkan analisis dua arah atau model statistik lain yang dapat menguji pengaruh utama dan interaksinya.”
Komentar kedua tetap tegas, tetapi memberi arah perbaikan naskah yang konstruktif. Ia tidak merendahkan penulis. Ia menilai manuskrip, bukan menilai penulis secara personal.
Dalam peer review, bahasa adalah bagian dari etika. Kritik yang baik tidak kehilangan ketajamannya hanya karena disampaikan dengan cara yang santun. Sebaliknya, kritik yang kasar sering kali justru kehilangan wibawa ilmiahnya.
Kapan Harus Meminta Percobaan Untuk Diulang?
Salah satu dilema reviewer adalah ketika menemukan kelemahan serius dalam desain penelitian. Apakah penulis harus diminta mengulang percobaan?
Jawabannya bergantung pada tingkat kelemahannya. Jika masalahnya hanya pada kurang jelasnya uraian metode, inkonsistensi istilah, atau analisis statistik yang masih dapat diperbaiki dengan data yang tersedia, maka revisi mayor biasanya sudah cukup. Namun, jika kelemahannya berada pada fondasi penelitian, misalnya tidak ada kontrol yang layak, rancangan percobaan tidak memungkinkan pengujian hipotesis, jumlah ulangan terlalu rendah, atau data yang disajikan tidak relevan dengan tujuan, maka permintaan mengulang percobaan dapat dibenarkan.
Bahkan, dalam kasus tertentu, reviewer boleh memberi rekomendasi penolakan (reject) secara langsung kepada editor. Asalkan alasannya jelas, berbasis kaidah ilmiah, dan tidak bersifat personal.
Yang tidak etis adalah meminta penulis mengulang atau menambah penelitian hanya untuk memenuhi rasa ingin tahu reviewer. Penelitian lanjutan yang berada di luar ruang lingkup manuskrip tidak boleh dipaksakan sebagai syarat perbaikan.
Minor, Major, atau Reject?
Reviewer objektif juga harus mampu membedakan bobot masalah yang ada di sebuah manuskript. Tidak semua kekurangan pantas diperlakukan sebagai kesalahan fatal.
Kesalahan tata bahasa, format tabel, penulisan referensi, atau alur diskusi yang belum rapi umumnya masuk kategori minor atau major revision, tergantung tingkat kesalahannya terhadap pemahaman pembaca. Sebaliknya, kesalahan dalam rancangan percobaan, analisis statistik, validitas data, orisinalitas, atau integritas ilmiah dapat menjadi alasan kuat untuk penolakan (reject).
Dalam banyak kasus, manuskrip yang baik bukanlah manuskrip yang sempurna sejak awal di submit oleh penulis. Manuskrip yang baik adalah manuskrip yang memiliki kebaruan ilmiah yang jelas, data memadai, metode dapat dipertanggungjawabkan, dan masih mungkin diperbaiki melalui revisi.
Reviewer yang terlalu mudah menolak dapat menghambat perkembangan ilmu pengetahuan. Namun, reviewer yang terlalu permisif juga berbahaya karena membiarkan karya tulis yang lemah metodologinya masuk ke ruang publik ilmiah. Objektivitas terletak di tengah: tidak kejam, tetapi juga tidak terlalu longgar.
Menjaga Kerahasiaan dan Integritas
Etika reviewer tidak berhenti pada komentar di lembar review. Manuskrip yang dikirim untuk direview adalah sebuah dokumen rahasia. Reviewer tidak boleh membagikannya kepada pihak lain, menggunakan data atau ide di dalamnya untuk kepentingan pribadi, atau mendiskusikannya di ruang publik sebelum artikel tersebut terbit.
Reviewer juga harus dengan tegas menyatakan tidak adanya konflik of interest dalam proses penelaahan. Konflik kepentingan tidak selalu berupa gratifikasi. Hubungan kolaborasi, persaingan riset, kedekatan personal, hubungan pembimbing dan mahasiswa, atau rivalitas akademik dapat mengganggu sebuah objektivitas dalam mereview.
Jika reviewer merasa tidak dapat menilai manuskrip secara adil dan obyektif karena adanya faktor conflict of interest atau karena keterbatasan skop yang bukan ranah kepakarannya, pilihan paling etis adalah menolak undangan review dari editor jurnal. Karena di situlah integritas seorang ilmuwan dipertaruhkan.
Skeptis, Bukan Berarti Sinis
Sains membutuhkan skeptisisme. Tanpa kritik, ilmu pengetahuan akan mudah berubah menjadi klaim sepihak dengan tanpa pengujian ilmiah yang shahih dan valid. Namun, skeptisisme tentu berbeda dari sinisme.
Skeptisisme mempertanyakan, “Apakah data hasil penelitian tersebut mendukung klaim sebuah manuskrip?” sedangkan Sinisme akan menyatakan, “Saya tidak percaya data ini, karena ini tidak sesuai dengan kaidah yang saya pegang saat ini”
Reviewer yang objektif harus skeptis, tetapi tidak sinis. Ia boleh meragukan hasil, tetapi harus menjelaskan dasar keraguannya. Ia boleh menolak simpulan, tetapi harus menunjukkan bagian mana dari data yang tidak mendukung simpulan tersebut. Ia boleh meminta revisi mayor, tetapi harus memberi peta jalan dalam proses perbaikan. Hal ini sejalan dengan kaidah ilmu pengetahuan bahwa klaim haruslah diuji, argumen harus dibuka, dan kesimpulan harus sesuai dengan bukti.
Menjadi Pembaca Pertama yang Adil
Tugas reviewer bukan hanya mencari kesalahan dan kekurangan penulis. Reviewer adalah pembaca pertama yang membantu penulisan manuskrip menjadi lebih sistematis. Ia membantu penulis melihat bagian yang kabur, argumen yang melompat, metode yang belum dijelaskan secara detail, data yang belum ditafsirkan secara komprehensif, atau klaim yang terlalu jauh.
Review yang baik tidak selalu membuat penulis senang. Namun, review yang baik membuat penulis paham apa yang harus diperbaiki dan mengapa itu penting.
Dalam dunia akademik yang semakin kompetitif, posisi reviewer sangatlah strategis. Ia dapat menjadi penjaga mutu ilmu pengetahuan, tetapi juga bisa menjadi penghambat jika bekerja dengan bias, ego, dan standar pribadi yang tidak proporsional.
Karena itu, untuk menjadi reviewer yang objektif maka kita perlu untuk menjaga keseimbangan: Mampu bersikap kritis dengan tanpa merendahkan, tegas tanpa memaksakan kehendak, skeptis tanpa sinis, dan membantu tanpa mengambil alih arah penelitian.
Reviewer adalah penjaga akal sehat dari sebuah karya tulis ilmiah. Dan dalam hal ini, yang paling penting bukanlah menemukan kesalahan dan kekeliruan semata, melainkan memastikan bahwa kritik yang diberikan benar-benar membuat ilmu pengetahuan bergerak ke arah kemajuan, jujur, terbuka, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Referensi:
Committee on Publication Ethics. (2017). Ethical guidelines for peer reviewers. COPE.
Lee, C. J., Sugimoto, C. R., Zhang, G., & Cronin, B. (2013). Bias in peer review. Journal of the American Society for Information Science and Technology.
