Terkadang kita lupa bahwa keaslian adalah kualitas yang paling berharga. Di
tengah masyarakat yang sering kali mengukur nilai seseorang dari seberapa manis
bertutur kata, seberapa hangat sikapnya, atau seberapa mudah ia menyenangkan
hati banyak orang, ada pelajaran berharga yang dapat kita petik dari hal
sederhana, ya dari secangkir “Kopi Hitam’.
Kopi hitam tidak harus selalu menjadi manis. Ia
tidak wajib menyatu dengan gula atau susu untuk memikat siapa pun. Terkadang ia
hadir apa adanya, pahit, kuat, dan penuh energi. Dan terkadang, justru dalam
kepahitannya itulah kopi hitam dicintai oleh banyak orang. Bukan karena ia
berusaha menyenangkan, melainkan karena ia menawarkan ketulusan rasa yang tidak
ditutupi basa-basi (sugar coating).
Inilah pelajaran yang sering kali kita lupakan, bahwa menjadi diri sendiri jauh
lebih bermakna daripada menjadi versi manis yang dipaksakan demi diterima
banyak orang.
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar" (QS. At-Taubah: 119)
Ayat ini menekankan pentingnya kejujuran dan
ketulusan dalam bersikap. Menjadi “manis” demi menyenangkan semua orang bisa
jadi membuat kita berpaling dari kebenaran pada diri sendiri. Keaslian adalah
bagian dari kejujuran yang dicintai oleh Allah Subhanahu wa ta'ala dan menjadi
fondasi hubungan yang tulus antarmanusia.
Dalam ruang sosial, banyak diantara kita yang
terjebak dalam ekspektasi untuk selalu “manis” selalu sopan, dan selalu
menyenangkan, bahkan ketika mereka sedang terluka atau tidak setuju akan satu hal.
Padahal, sikap seperti ini bukan hanya melelahkan secara emosional, tetapi juga
menciptakan relasi yang tidak genuine
atau otentik. Keberanian untuk tampil sebagaimana adanya, dengan segala
ketegasan dan kejujuran, justru membuka ruang bagi hubungan yang lebih tulus
dan saling menghargai.
Rasulullah -shollallahu alaih wasallam- bersabda:
"Barang siapa yang mencari ridha Allah walaupun membuat manusia marah, maka Allah akan meridhainya dan menjadikan manusia ridha kepadanya. Namun barang siapa yang mencari ridha manusia dengan membuat Allah murka, maka Allah murka kepadanya dan menjadikan manusia pun murka kepadanya." (HR. Ibnu Hibban)
Kita tidak perlu merasa bersalah hanya karena tidak cocok dengan semua
orang. Ketika seseorang memilih menjadi seperti kopi hitam, berani menunjukkan
rasa sejatinya, tidak menyembunyikan kepahitannya, dan tidak berpura-pura
menjadi sesuatu yang bukan dirinya maka ia telah memberi ruang bagi orang-orang
yang benar-benar menghargai esensinya untuk hadir. Seseorang tidak harus
menjadi manis untuk dicintai semua orang. Yang penting adalah menjadi diri
sendiri, karena keaslian jauh lebih langgeng daripada kepalsuan yang dipaksakan.
Menjadi seperti kopi hitam bukan berarti harus
selalu bersikap keras atau tidak peduli, tetapi mengajarkan kita untuk setia
pada nilai-nilai dan prinsip pribadi. Dunia mungkin tidak selalu ramah pada
mereka yang memilih jalan kejujuran, tetapi rasa hormat dan penerimaan yang
datang dari keaslian akan selalu lebih bernilai daripada tepuk tangan dari
keramaian yang tidak mengenal kita secara utuh.
Dalam realitas sosial yang menuntut
penyesuaian diri, mari belajar dari secangkir kopi hitam bahwa tidak semua hal
yang pahit itu buruk, dan tidak semua yang manis itu baik. Karena pada
akhirnya, keberanian menjadi diri sendiri adalah bentuk tertinggi dari
penghormatan terhadap hidup dan itu adalah jalan menuju kejujuran yang dicintai
oleh Allah Subhanahu wa ta'ala.