Antara µM dan mg/L, Satuan Mana yang Lebih Tepat dalam Percobaan Kultur Jaringan Tanaman?

Dr. Rudiyanto, SP., M.Si
0

Dalam setiap aktivitas riset di Lab. Basah, satuan bukanlah sekadar angka, ia adalah bahasa komunikasi yang menjembatani hasil eksperimen dalam diseminasi ilmiah dalam skala global. Salah satu perdebatan klasik yang kerap muncul di laboratorium kultur jaringan tanaman adalah: mana yang lebih tepat digunakan saat untuk membandingkan varian zat pengatur tumbuh (plant growth regulators/PGR) seperti NAA, IBA, dan 2,4-D, apakah menggunakan satuan konsentrasi molar (µM/mM), atau tetap memakai satuan massa seperti mg/L (mg L-1)?

Secara prinsip ilmiah, penggunaan satuan molar (µM atau mM) lebih disarankan ketika membandingkan efektivitas varian auksin atau sitokinin yang berbeda. Alasannya karena setiap varian zat pengatur tumbuh memiliki berat molekul yang berbeda, sehingga jika menggunakan satuan massa (mg/L), jumlah molekul aktif yang diberikan pun menjadi tidak setara. Sebagai contoh, 1 mg/L NAA yang memiliki berat molekul 186,2 g/mol setara dengan 5,37 µM, sedangkan 1 mg/L IBA dengan berat molekul 203,2 g/mol hanya setara dengan 4,92 µM. Artinya, meski terlihat sama secara massa, jumlah molekul yang memicu respons biologis tanaman bisa berbeda secara signifikan, sehingga hal ini berisiko menghasilkan interpretasi yang bias (Taiz et al., 2018).

Lebih jauh, efek fisiologis tanaman terhadap PGR sangat dipengaruhi oleh konsentrasi molekul aktif, bukan oleh massanya. Dalam konteks ini, molaritas menjadi alat ukur yang lebih akurat dan representatif. Tak heran jika banyak jurnal ilmiah bereputasi, mulai dari Plant Physiology hingga Journal of Experimental Botany, lebih menyarankan penggunaan konsentrasi molar dalam penyajian data eksperimen perlakuan PGR pada tanaman (Rademacher, 2016; Rigal et al., 2021).

Namun demikian, bukan berarti penggunaan satuan mg/L tidak mendapatkan tempat di jurnal ilmiah. Di banyak bidang ilmu terapan seperti ilmu lingkungan, kedokteran, hingga kimia analitik, satuan mg/L justru sering digunakan karena alasan praktis dan keterbacaan. Satuan ini memudahkan komunikasi data yang lebih intuitif dan dapat diakses oleh pembaca nonspesialis. Bahkan, dalam banyak jurnal terkemuka seperti Environmental Science & Technology dan Water Research, penggunaan mg/L masih dianggap baku dan dapat diterima selama konsisten dengan pedoman format jurnal yang dituju (Tchobanoglous et al., 2014; WHO, 2022).

Perlu dicatat bahwa meskipun mg/L bukan satuan resmi dari Sistem Internasional (SI), penggunaannya tetap diperkenankan dalam konteks-konteks tertentu. Secara teknis, 1 mg/L setara dengan 1 g/m³ atau 10⁻³ kg/m³, sehingga dapat dikonversi ke satuan SI dengan mudah saat diperlukan. Di balik satuan mg/L tersembunyi filosofi komunikasi ilmiah yang mengutamakan keseimbangan antara presisi dan keterpahaman publik (Lide, 2005).

Oleh karena itu, pilihan antara mg/L dan µM bukan sekadar permasalahan teknis, tetapi juga soal konteks. Untuk eksperimen biologis yang membandingkan efektivitas berbagai jenis senyawa, satuan molar lebih disarankan karena menjamin kesetaraan jumlah molekul aktif secara lebih presisi. Namun, untuk penyajian data di ranah bidang terapan atau komunikasi lintas disiplin, mg/L tetap relevan. Solusinya? Gunakan keduanya secara komplementer, susun data dalam µM untuk analisis, dan sajikan dalam mg/L bila diperlukan untuk kejelasan publik dan yang terpenting sesuaikan dengan format satuan baku di jurnal yang akan dituju.

Di era di mana transparansi data dan komunikasi lintas disiplin semakin penting, peneliti dituntut tidak hanya akurat dalam eksperimen, tetapi juga bijak dalam memilih satuan. Karena pada akhirnya, sains bukan hanya soal hasil, tetapi juga bagaimana hasil itu disampaikan dengan jelas, dan dapat dimengerti semua pihak/ pembaca.

Referensi:

Post a Comment

0 Comments

Post a Comment (0)
3/related/default