Filosofi Bambu, Teruslah Tumbuh Meskipun Terkadang Tak Kasat Mata

Dr. Rudiyanto, SP., M.Si
0

Di tengah era digital yang serba cepat, ketika semua hal diukur dalam hasil dan output, terkadang kita melupakan satu hal dalam setiap perjalanan hidup yakni proses yang tidak terlihat. Kita sering merasa panik ketika tidak ada perkembangan signifikan dalam hidup, merasa cemas ketika stuck dan tidak mencapai milestones seperti yang orang lain raih, bahkan terkadang mulai meragukan kemampuan diri sendiri saat “diam” terlalu lama. Namun, di balik semua itu, bisa jadi kita sedang berada dalam fase “tak terlihat” seperti halnya pertumbuhan akar pada tanaman bambu.

Mempelajari filosofi bambu bukanlah sekadar metafora inspirasional. Skema ini didukung oleh fakta biologis yang menarik. Studi oleh Li et al. (2017) dalam jurnal Frontiers in Plant Science menemukan bahwa spesies Phyllostachys edulis akan mengalami fase dormansi pertumbuhan tunas di tahun-tahun awal setelah proses penanaman, sementara sistem perakarannya akan terus berkembang lalu membentuk rizoma di bawah tanah yang masif sebagai bentuk fondasi utama untuk pertumbuhan apikalnya kelak. Menurut penelitian tersebut, rizoma bambu membentuk jaringan lateral selama bertahun-tahun dengan tanpa memperlihatkan tanda pertumbuhan tunas di permukaan tanah. Namun setelah akumulasi nutrisi, asimilat dan biomassa dirasa cukup, batang bambu akan dapat tumbuh secara eksponensial bahkan hingga lebih dari 20 meter hanya dalam waktu kurang dari 60 hari. Pertumbuhan tersebut diinisiasi oleh peningkatan aktivitas ekspresi gen yang terkait dengan cell wall loosening dan elongasi sel secara cepat saat memasuki fase pertumbuhan optimalnya (Li et al., 2017).

Selama lima tahun pertama setelah penanaman, bibit tanaman bambu tidak menunjukkan pertumbuhan apapun di permukaan. Tidak ada batang yang menjulang, tidak ada daun yang mekar. Ia terlihat seperti tanaman yang gagal untuk “exist” . Tetapi, justru pada saat-saat itulah akar bambu bekerja dalam diam, menembus tanah yang keras, membangun jaringan akar yang kokoh dan dalam. Ketika fondasi itu selesai, dalam hitungan minggu di tahun keenam, bambu tersebut mampu tumbuh hingga 27 meter.

Pertanyaannya: apakah bambu itu tumbuh dalam enam tahun, atau hanya dalam enam minggu? Tentu jawabannya adalah enam tahun. Seluruh waktu itu dibutuhkan untuk mempersiapkan lompatan pertumbuhan yang luar biasa. Dan begitulah gambaran fase kehidupan yang kadang harus kita lalui, fase stagnan bukanlah tanda kegagalan, melainkan proses penguatan struktur internal dalam diri untuk membangun karakter, keyakinan, resiliensi, dan visi misi.

Proses yang Kadang Tak Terlihat Kasat Mata

Psikolog Angela Duckworth dalam bukunya Grit: The Power of Passion and Perseverance (2016) mengungkap bahwa kunci keberhasilan jangka panjang bukanlah kecerdasan atau bakat semata, melainkan ketekunan dan ketabahan dalam menghadapi proses panjang dan berliku. Proses “Diam” ini seringkali justru menjadi periode pembentukan grit dalam diri seseorang, yakni kemampuan untuk tetap melangkah maju meski tak ada hasil instan yang diraih.

Kondisi ini sering dialami di dunia pendidikan, penelitian, bahkan dalam dunia bisnis. Seorang peneliti bisa jadi akan menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk melakukan eksperimen yang tak kunjung membuahkan hasil. Seorang wirausahawan harus melewati berbagai kegagalan sebelum produknya diterima pasar. Namun, sebagaimana akar bambu, mereka sedang membangun resiliensi struktur yang akan menopang pertumbuhan eksponensial ketika momentum itu datang di saat yang tepat.

Hargailah Proses, Tidak Ada Hasil yang Instan

Seorang pemikir China bernama Lao Tzu dalam bukunya Tao Te Ching pernah mengatakan “The soft overcomes the hard” yakni fleksibilitas dan kelembutan (seperti air) dalam menghadapi kesulitan atau tantangan, pada akhirnya dapat menembus atau mengatasi hal yang keras (seperti batu). Segala sesuatu memiliki musimnya sendiri. Hal-hal yang tampak pasif seperti akar atau air, justru memiliki kekuatan transformatif besar dalam jangka panjang.

Dalam Al-Qur’an Allah -Subhanahu wa ta'ala- mengisyaratkan pentingnya sabar dalam proses seperti termaktub dalam QS. Al-Insyirah (94:5-6): “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” Ayat ini menunjukkan bahwa kesulitan dan hasil positif adalah bagian dari suatu paket proses yang harus dilalui dan bukan dua fase yang terpisah.

Pentingnya Sebuah Kesabaran

Sayangnya, keberadaan media sosial dan budaya instant gratification menciptakan persepsi bahwa kesuksesan itu harus cepat dan tampak kasat nyata. Akibatnya, banyak individu merasa tertinggal hanya karena merasa belum “meledak” secara karier, finansial, atau pencapaian status sosial, padahal mungkin mereka saat ini masih berada di fase “pertumbuhan akar”.

Menurut laporan dari American Psychological Association (APA, 2023), generasi muda saat ini mengalami peningkatan signifikan dalam kecemasan eksistensial akibat tekanan untuk selalu tampil sukses di usia muda. Padahal, sebagaimana disampaikan oleh Carol Dweck dalam Mindset: The New Psychology of Success (2006), keberhasilan sejati berasal dari growth mindset yakni keyakinan bahwa potensi bisa dikembangkan terus melalui proses, bukan bawaan lahir atau pencapaian hasil yang instan.

Menikmati Fase Pertumbuhan

Memahami filosofi bambu berarti memahami bahwa waktu dorman bukanlah waktu yang sia-sia. Ia adalah fase pembentukan karakter. Bukan tidak ada pertumbuhan, melainkan pertumbuhan itu sedang terjadi di kedalaman tanah yang tak terlihat. Kita perlu belajar berdamai dengan proses, berdamai dalam senyap, dengan “tidak exist” dalam tahap-tahap awal merintis karya, usaha, maupun pengembangan diri.

Mengubah paradigma dari hasil ke proses, dari cepat ke tepat, dari tampak ke substansi, adalah revolusi mental yang perlu ditumbuhkan sejak dini baik di sekolah, keluarga, maupun ruang kerja. Kita harus belajar memberi ruang bagi orang lain dan juga bagi diri sendiri untuk bertumbuh dalam diam.

Sebagaimana filosofi bambu yang pertumbuhannya tampak tak menjanjikan selama lima tahun pertama, banyak potensi besar dalam diri manusia yang juga butuh waktu “sunyi” untuk bertumbuh. Jika hari ini kita merasa belum diakui, atau bahkan belum tahu mau ke mana, mungkin bukan karena kita gagal, tapi karena kita sedang “berakar”. Maka, bersabarlah. Karena ketika waktunya tiba, pertumbuhan kita bisa saja mengejutkan dunia. "Today, you are nothing-but tomorrow, you will be everything."

Referensi:
  • Al-Qur’an Surat Al-Insyirah (94:5-6).
  • American Psychological Association. (2023). Stress in America Survey. https://www.apa.org/news/press/releases/stress/2023
  • Duckworth, A. (2016). Grit: The Power of Passion and Perseverance. Scribner.
  • Dweck, C. (2006). Mindset: The New Psychology of Success. Random House.
  • Li, L., Cheng, Z., Ma, Y., Bai, X., & Sun, J. (2017). Transcriptome Analysis of the Rapid Growth of the Moso Bamboo (Phyllostachys edulis) Culm. Frontiers in Plant Science, 8, 210. https://doi.org/10.3389/fpls.2017.00210

Post a Comment

0 Comments

Post a Comment (0)
3/related/default