Di dunia akademik yang kian hari kian kompetitif, label “Bodoh” selalu dimaknai sebagai sebuah kegagalan bahkan dilekatkan pada realitas mediokrasi yang membentuk sebuah standar penilaian. Ia adalah aib, sesuatu yang harus disembunyikan dan tak perlu ditampakkan, apalagi di tengah tekanan publikasi, indeks sitasi, dan standard pencapaian reputasi ilmiah yang semakin tinggi. Namun, pandangan ini justru berbanding terbalik dengan opini Martin A. Schwartz dalam esainya yang berjudul, “The Importance of Stupidity in Scientific Research”. Bagi Schwartz, kebodohan bukanlah penghalang bagi kemajuan sains, justru sebaliknya, ia menjadi prasyarat perlunya riset ilmiah untuk kemajuan sains.
Hypothesa ini sepertinya terdengar paradoksal atau mungkin provokatif. Tetapi justru di situlah relevansinya bagi dunia riset saat ini. Sains tidak tumbuh dari rasa serba tahu, melainkan dari keberanian menghadapi ketidaktahuan dan kebodohan.
Dari Merasa Pintar ke Merasa Tidak Tahu Apa-Apa
Sebagian besar ilmuwan memulai perjalanan akademiknya sebagai “Anak Pintar”. Di bangku sekolah hingga perguruan tinggi, ilmu diajarkan sebagai bentuk akumulasi jawaban benar dalam setiap soal ujian. Prestasi diukur dari kemampuan menguasai teori dan mereproduksi pengetahuan yang sudah establish di buku teks pelajaran. Tidak heran jika rasa percaya diri, dan bahkan merasa pintar, menjadi modal awal memasuki dunia sains.
Namun, ilusi itu runtuh ketika seseorang memasuki studi jenjang doktoral. Riset PhD bukan tentang apa yang sudah diketahui, melainkan tentang ranah penelitian yang belum pernah disentuh dan belum diketahui siapa pun. Schwartz mengisahkan pengalaman pribadinya ketika berbulan-bulan gagal memahami trouble shooting dalam risetnya sendiri, hingga merasa insecure dan tidak kompeten. Titik balik terjadi saat ia berkonsultasi dengan Henry Taube (ilmuwan besar peraih Nobel), dan mendapati bahwa sang pakar pun ternyata tidak tahu jawabannya.
Kesadaran itu mengubah segalanya. Jika seorang pakar kelas dunia saja tidak tahu, berarti persoalan tersebut memang berada di batas pengetahuan manusia. Justru karena tidak ada yang tahu, maka ia layak diteliti. Di sanalah Schwartz menyadari bahwa rasa bodoh bukan tanda kegagalan personal dalam melakukan riset, melainkan pertanda bahwa ia benar-benar sedang melakukan riset yang sesungguhnya.
Dua Jenis Kebodohan
Schwartz memberikan batasan yang tegas antara dua jenis kebodohan. Pertama adalah kebodohan relatif. Yakni kondisi ketika seseorang tertinggal dalam ilmu pengetahuan karena kurang membaca, kurang latihan, atau kurang usaha. Ini adalah kebodohan yang manusiawi dan dapat diatasi dengan belajar dengan lebih giat lagi.
Kedua, kebodohan absolut. Yakni ketidaktahuan yang tak terhindarkan ketika seseorang berdiri di garis depan ilmu pengetahuan. Pada titik ini, tidak ada buku teks, tidak ada jawaban pasti, dan tidak ada peta yang jelas. Eksperimen bisa gagal, hipotesis bisa keliru, dan kebingungan menjadi pengalaman sehari-hari. Ironisnya, justru kebodohan absolut inilah yang menjadi bahan bakar utama kemajuan sains. Ia menandai upaya manusia menembus batas pengetahuan yang ada.
Kebodohan sebagai Pilihan Intelektual
Lebih jauh, Schwartz memperkenalkan gagasan tentang “Kebodohan Produktif”. Sebuah pilihan sadar untuk berkutat pada masalah-masalah yang belum terpecahkan dan belum ada teorinya. Menjadi bodoh secara produktif berarti bersedia meninggalkan zona nyaman, mengabaikan apa yang sudah pasti, dan berfokus pada pertanyaan-pertanyaan sulit yang belum ada jawabannya.
Pilihan ini memang tidak nyaman. Ia menuntut ketahanan mental, kesabaran, dan keberanian untuk gagal berulang kali. Namun, di situlah keindahan sains itu bekerja. Kemajuan ilmiah lahir dari proses meraba-raba dalam gelap, bukan dari teori hukum yang didapat secara instan. Rasa bodoh, dalam hal ini, justru dapat menjadi kompas yang menunjukkan arah penemuan ilmiah.
Kritik Pada Sistem Pendidikan Sains
Esai Schwartz juga menyimpan kritik terhadap sistem pendidikan sains, khususnya program doctoral/ S3. Terlalu sering, pendidikan ilmiah menilai mahasiswa dari seberapa banyak jawaban benar yang mereka kuasai dalam teori, bukan dari sejauh mana mereka mampu mengidentifikasi batas ketidaktahuannya sendiri.
Padahal, momen ketika seorang mahasiswa berkata, “Saya tidak tahu,” seharusnya dipandang sebagai titik awal riset yang sesungguhnya dan bukan sebagai sebuah kegagalan. Pendidikan sains perlu bergeser, dari sekadar melatih menghafal ilmu pengetahuan, menjadi penjelajah ketidaktahuan.
Menyelam ke Wilayah yang Belum Diketahui
Epilog dari karya tulis Schwartz ini, mengingatkan kita pada fakta bahwa pengetahuan manusia itu terbatas, sementara ketidaktahuan nyaris tak bertepi. Kemajuan hanya mungkin terjadi jika kita berani mengakui keterbatasan itu dan tetap melangkah meski tanpa ketidakpastian.
Semakin nyaman kita berdamai dengan rasa bodoh, semakin jauh kita berani menyelam ke wilayah yang belum terjamah. Dan di sanalah, sering kali, penemuan-penemuan besar itu berhasil ditemukan. Dalam riset ilmiah, kebodohan bukanlah musuh kecerdasan namun ia adalah syarat keberanian untuk melangkah lebih jauh ke depan.
Referensi:
Schwartz, M. A. (2008). The importance of stupidity in scientific research. Journal of Cell Science, 121, 1771.
